Senin, 11 Januari 2010

DEAR DIARY

Aku menggerutu tak jelas. Amarah memenuhi hatiku. Sampai terasa sesak hatiku. Bahkan hatiku tak mampu lagi menampung rasa yang paling ku benci itu. Rasa yang bisa membuatku stress itu, kini tumpah. Meluap bagai air bah...Aku teriak dalam hati..


Kenapa malah jadi seperti ini..?!


Kini aku setuju dengan kalimat ini :
" Masalah antar manusia adalah hal yang paling rumit di dunia ini "

Itu adalah buah pikiran Natya S. A , , yang diekspresikan lewat cerpennya yang berjudul "RUMIT"


Dia benar. Masalah antar manusia adalah hal yang paling rumit..!! Melebihi rumitnya matematika..!!


Kau tahu, kenapa demikian?
Inilah kisahku...


Sedang terjadi pergejolakan di dalam hubungan sosial (yang dinamakan persahabatan) yang sedang aku jalani. Ya persahabatan kami (aku & temanku yang lain)sedang diguncang gempa 5,9 richter (ku harap penulisan richternya benar). Tidak, kurasa kekuatan gempanya 7,9 richter.
Karena dampak yang ditimbulkan, cukup serius dan fatal. masing-masing dari kami, kini saling menjauh satu sama lain. Acara "ngumpul bareng" atau "ngumpul sambil ngerumpi", kini ditiadakan. Dihapus dari daftar kegiatan yang wajib kami lakukan bersama. Rasanya aneh sekali. Rasanya seperti saat kau memakan baksomu menggunakan sumpit. Yah, seperti itu.



Penyebabnya? Jangan tanya penyebabnya..!! Karena aku sama sekali tak tahu.
Aku tak paham sebab hal ini.
Jika ku tanya, yang ada hanyalah rentetan nafas yang keluar masuk alat pernafasan. Ku tak percaya, tiba-tiba mereka berubah menjadi tuna wicara.



Sebagai pihak netral -yang tak memihak kepada siapapun atau mendukung suatu hal-, aku pun tak bisa memberi solusi. Padahal biasanya aku pandai bicara.
Ini karena apapun yang kukatakan.. akan dibalas dengan serangkaian kalimat panjang sebagai luapan emosi yang ada dalam hati mereka. Kurasa semua rasa yang menyesakkan dada, muncrat keluar seketika itu.



Jika mendengar kekesalan mereka, aku hanya bisa diam, meski hatiku gaduh seperti ada kerusuhan. Karena suara-suara dari sudut hatiku yang menginginkanku tampil sebagai penyelesai masalah.


Tapi.. aku tak bisa. Yeah, I can do it..!!


Aku tak ingin..., hmmm sudahlah. Jika kuutarakan pun, kau akan sulit mengerti maksudku. Cukup rumit..!!



Well, sepertinya hal terbaik yang dapat kulakukan sekarang adalah diam.
Menunggu hingga mereka benar-benar siap.. Siap untuk apa?! Entahlah.., aku tak tahu.
Mungkin siap untuk melakukan pembenahan diri. Bahwa ternyata.. setiap manusia memiliki kekurangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar