Bumi graduil membuka matanya, kala sunrise mulai merangkak dari ufuk timur. Butir-butir embun masih tersisa di kelopak bunga dan di helaian daun. Aku memandang langit yang mulai menderang. Pikirku menerawang. Peristiwa lalu, bagai terulang.
“Cukup! Aku tak mau tergores lagi..!!”
Itu bukan jeritanku, itu jeritan hatiku. Ku pahami, kenapa hatiku menjerit seperti itu. Peristiwa tiga hari yang lalu, memang telah menyisakan luka menganga di hatiku. Perih rasanya. Bahkan rasa perih itu, sampai meracuni pikiran dan ragaku. Setelah peristiwa itu, aku seolah mati. Aku tak bisa berfikir. Aku tak kuat untuk berjalan. Hingga kemarin, aku absen dari sekolah.
* * *
Aku putuskan untuk sekolah lagi. Aku tak ingin absen terlalu lama. Aku sedang berjalan menuju ke kelasku, ketika beberapa pasang mata mengikuti langkahku. Ada apa ini? Kenapa mereka memandangiku dengan tatapan seperti itu? Apakah ada yang salah? Ada apa dengan mereka?
Belum terjawab tanyaku, kala Reta menghampiriku, dan berkata ”kamu yang sabar ya, Velo..,” ucapnya sambil menatap iba.
Aku benar-benar terperangkap dalam kebingungan. Ada apa ini?
Aku mempercepat langkahku. Saat mataku menangkap sosok Airin, dengan segera aku menghampirinya.
“Ada apaan sih? Kok anak-anak pada kayak gitu sama aku?”
“Liat nih..” ujar Airin seraya menyodorkan majalah sekolah padaku.
Seminggu sekali OSIS selalu menerbitkan majalah. Majalah sekolah yang kami buat sendiri. Isinya tentang liputan seputar sekolah.
Aku terlonjak kaget, saat membaca rubrik Hot Gossip. Rubrik itu adalah rubrik favorit, karena berisi tentang gosip-gosip yang lagi happening di sekolah.
“Pasangan paling serasi di SMA 55 Gorontalo, Velo & Tristan, ternyata udah resmi PUTUS sejak tiga hari yang lalu. Pasangan yang mendapat julukan RAJA & RATU sekolah kita itu, mengakhiri hubungan, di CAFFE HAPPYHOME. Penyebab retaknya hubungan RAJA & RATU kita itu adalah karena hadirnya orang ketiga. Mo tahu siapa si orang ketiga tersebut? TANIA. Ya, Tania sahabat Velo. Menurut kabar yang kami terima, Tania ternyata diam-diam menyimpan rasa cinta terhadap Tristan. Well, Velo pasti shock, saat realita membuka matanya bahwa ternyata.. perhatian Tania pada Tristan, bukan sekedar perhatian dari seorang sahabat. Tapi, lebih dari itu..!! Ini benar-benar realita yang sangat mengejutkan, tapi sekaligus menarik.”
Aku meremas-remas majalah itu, merobeknya dengan perasaan kacau balau, dan terakhir memasukkan majalah yang telah terkoyak-koyak itu, ke dalam tempat sampah dengan sadis.
“SIAL….!!” umpatku. Aku memegangi kepalaku yang terasa pening. Langit rasanya akan runtuh menimpaku.
Airin mengelus-elus pundakku, mencoba untuk menenangkanku, “kamu harus tegar, aku yakin kamu pasti bisa bertahan.”
* * *
Saat aku & Airin baru saja akan memasuki kantin, suara-suara itu terdengar…
“Aduh, gimana nih nasib OSIS kita? Selama ini kan, yang selalu ngurusin Velo dan Tristan. Nah, kalo Velo dan Tristan kayak gini, jadinya gimana?”
“Ya, bener. Bisa-bisa.. pensi untuk semester ini, dibatalin.”
Memang benar, aku & Tristan memiliki andil besar di OSIS. Tristan sebagai ketua OSIS, aku sebagai sekertarisnya, selalu menyumbangkan gagasan cemerlang kami, demi keaktifan OSIS SMA 55 Gorontalo. Mengenai penerbitan majalah sekolah, idenya juga berasal dari aku & Tristan. SIAL..!! Sekarang, aku menyesal, karena telah mengusulkan ide tolol itu. Berkat majalah yang tak penting itu, satu sekolahan jadi tahu masalah antara aku dan Tristan. Masalahku yang seharusnya menjadi privacyku, kini telah menjadi buah bibir seantero sekolah.
“Sabar ya, Vel… Kamu harus tenang. Kamu gak boleh kebawa emosi,” ujar Airin mengingatkan.
Ku acuhkan perkataan Airin. Amarah yang tak bisa ku redam, telah membuat pikiranku beku. Aku muak. Muak akan setiap keaadaan yang selalu mengingatkanku pada kejadian yang ingin sekali ku hapus dari memory ingatanku.cAku membalikkan badan. Dengan tergesa-gesa, aku melangkah menjauhi kantin.
Langkahku membawa diriku menuju belakang sekolah. Semua yang ku alami, mungkin telah membuatku rapuh. Hingga dengan mudahnya aku jatuh tersandung batu.
Lututku tergores kerikil. Darah segar perlahan keluar dari lututku. Aku coba menahan perihnya. Tapi, kemudian aku sadar, aku tak akan mampu menahan perih ini. Sebab, bukan saja lututku yang perih, hatiku juga terasa sangat perih.
Ku rasakan mataku mulai basah. Tak sanggup ku tahan air mata yang berebut ingin keluar. Aku menangis dalam kelam.
* * *
“You say what..?? Nggak, aku nggak mungkin ngelakuin itu. Gimana pun juga, dia tetap sahabat aku,” ucapku kaget saat sebuah ide gila terujar dari mulut Arka.
“Apa kamu bilang? Sahabat? Kamu bilang cewek itu sahabatmu? Heh, dia tuh nggak pantas jadi sahabat! Seorang sahabat, nggak akan tega nyakitin hati sahabatnya. Ingat, kalo dia pernah ngebuat kamu nangis,” ucap Arka bersikukuh.
Ku ceritakan semua masalahku pada Arka, sepupuku yang dua tahun lebih tua dariku. Ini karena aku tersiksa menanggung masalahku seorang diri. Tapi tak ku sangka, Arka mengusulkan sebuah ide gila yang tak mungkin aku lakukan.
“Iya, aku tahu. Tapi nggak harus dibalas dengan cara kayak gitu kan?” kataku membela diri.
“Harus kayak gitu! Biar dia ngerasain rasa sakit yang selama ini kamu rasakan,” Arka tetap saja bersikeras.
Aku terdiam. Ucap Arka menyadarkanku. Memang, ku sadari, ada satu sisi hatiku yang menginginkan Tania merasakan rasa sakit yang aku rasakan.
“Velo, kamu nggak harus secara terang-terangan ngebuka aib Tania. Kamu bisa kok, ngelakuin itu dengan cara diam-diam,” ucap Arka lagi.
“Tapi Tania dan Airin pasti bakal tahu kalo itu kerjaan aku,” keraguan kembali menghinggapiku.
“Kamu bilang aja, mungkin ada orang yang nggak sengaja dengerin obrolan kalian soal bokapnya Tania. Maybe orang itu dendam sama dia, sehingga orang itu dengan sengaja ngebongkar semuanya. Gampang kan?” jelas Arka panjang lebar.
Aku diam.
“Aku tahu, kamu nggak akan pernah tega ngelakuin hal itu. Mungkin ini bukan ide yang bagus. Tapi, cuma ini cara satu-satunya,” kata-kata Arka membuatku dilema. “Terserah. Apa kamu memilih untuk terus disakiti, atau ngelakuin rencana aku. Keputusannya ada di tangan kamu. Toh, nantinya, kamu juga yang bakal ngejalanin semuanya. Sekarang, aku harus pergi. Aku nggak mau ngebuat cewek aku harus nunggu sampe lumutan. Pikirin hal ini baik-baik. Okey?” ucap Arka sambil berlalu meninggalkanku.
Aku bertafakur. Dalam hatiku, terjadi pertentangan hebat. Entah apa yang harus aku lakukan. Aku dilema. Oh Tuhan…
* * *
Aku tak bisa memejamkan mata. Padahal jam Mickey Mouse-ku sudah menunjukkan pukul sebelas lewat seperempat. Kembali aku teringat dengan kata-kata Arka. Memaksa otakku untuk bekerja lebih keras lagi.
“…seorang sahabat nggak akan tega nyakitin hati sahabatnya. Ingat, kalo dia pernah ngebuat kamu nangis..”
“…terserah. Apa kamu memilih untuk terus disakiti, atau ngelakuin aku...”
Arka benar. Jika Tania masih menganggapku sahabatnya, dia pasti tak akan tega melakukannya padaku. Ya, aku akan melakukan rencana Arka. Biar si Tania brengsek itu, tahu rasa!
Aku bangun dari pembaringanku. Lalu aku menyalakan komputerku. Membuka aplikasi Microsft Word, dan mulai mengetik.
15 menit kemudian, aku telah selesai mengetik. Aku menyalakan mesin print. Dan kemudian menekan tombol Ctrl + P di keyboard.
Setelah mesin print telah selesai melakukan tugasnya, aku mengambil hasil ketikanku, membacanya kembali. Mungkin saja ada kalimat yang ngawur tersisipi.
HOT NEWS HARI INI
SELAMA INI TANIA ALUNA, DIANGGAP SEBAGAI SOSOK YANG BERKEPRIBADIAN BAIK DAN TIDAK MEMILIKI CATATAN HITAM DI SEKOLAH. KELIHATANNYA, TANIA ADALAH CEWEK YANG PERIANG DAN TAK PERNAH BERMASALAH DENGAN KELUARGANYA. TAPI APAKAH SEMUA ITU BENAR? TERNYATA TIDAK..!! KEHIDUPAN KELUARGA TANIA JAUH DARI KATA BAHAGIA. AYAH TANIA ADALAH SEORANG KORUPTOR ULUNG DAN SEORANG PECANDU NARKOBA KELAS KAKAP. AYAH TANIA JUGA SELALU BERBUAT KASAR KEPADA IBUNYA. KARENA PEMUKULAN DAN PENYIKSAAN YANG DILAKUKAN AYAH TANIA, KINI IBU TANIA MENDERITA GANGGUAN KEJIWAAN, DAN HARUS DIRAWAT DI RUMAH SAKIT JIWA. ADA PEPATAH MENGATAKAN, BUAH JATUH TIDAK JAUH DARI POHONNYA. KARENA ITU, KITA HARUS WASPADA DENGAN TANIA. MUNGKIN NANTI, TANIA JUGA AKAN MENGIKUTI JEJAK AYAHNYA.
Aku tersenyum puas. Ini cukup untuk membalas sakit hatiku atas semua yang kau lakukan padaku, Tania. Besok, semua orang akan tahu kebusukkanmu.
* * *
Aku bangun lebih awal pagi ini. Kali ini, aku merasa lebih fresh dari biasanya. Aku mengintip sedikit ke luar jendela. Di luar sana, masih agak gelap. Matahari belum menampakkan wujudnya.
“Kali ini, aku mendahuluimu, matahari,” bisikku.
Tidak biasanya aku bangun sepagi ini. Biasanya, aku bangun saat cahaya matahari sudah merambat masuk melalui celah-celah jendela. Aku sangat bersemangat hari ini.
* * *
Saat aku datang, sekolah masih sepi. Jam segini, yang ada hanya penjaga sekolah, dan beberapa siswa yang sedang piket hari ini.
Ini adalah kesempatan yang bagus. Aku harus segera melakukan rencanaku.. Setelah itu, pergi meninggalkan sekolah. Datang kembali pada jam tujuh kurang sepulah menit. Dengan begitu, aku tidak akan dicurigai. Rencana yang hebat!
* * *
Aku melirik jam tanganku, jam tujuh kurang sepuluh menit. Setelah membayar ongkos taksi, aku turun dan berjalan ke arah gerbang. Tak sabar aku menantikan peristiwa hebat yang akan terjadi pagi ini.
Aku memasuki kelas, berusaha bersikap sewajar mungkin. Ku lihat Yuditya, Puput, Putry, dan Thiya, sedang berkumpul ngerumpi. Pasti mereka sedang membicarakan Tania.
“Hei, Velo, udah denger tentang Tania belom?” tanya Yuditya kepadaku.
Aku mengerutkan dahi. Bertingkah seperti orang yang sama sekali tak mengetahui apapun.
“Tania? Ada apa dengan Tania?”
“Ya ampun Velo. Kurang up date banget sih,” ucap Puput.
“Masa kamu nggak tahu soal masalah sahabat kamu sendiri!? Upssh, maksudku mantan sahabat kamu..,” ucap Putry dengan sinis.
Putry benar, Tania adalah mantan sahabatku. Bukan sahabatku.
“Ummh, memangnya ada apaan sih?” tanyaku dengan gaya sok tak tahu apa-apa.
“Mantan sahabat kamu itu, ternyata adalah anak seorang..,” Putry tiba-tiba berhenti berucap. Aku mengikuti arah pandangan matanya. Saat aku berbalik, Airin sudah berada di belakangku.
“Aku mau ngomong. Penting!”
“Ada apa Rin?”
“Kita ngomong di tempat lain aja.” Airin lalu keluar kelas. Aku mengikutinya dari belakang.
Saat aku dan Airin telah berada di tempat yang cukup sunyi, Airin menghentikan langkahnya.
“Sebenarnya ada apa sih, Rin?”
Airin memandangiku dengan tatapan kesal. Tapi aku sama sekali tidak takut. Tatapanku sepuluh kali lebih sadis daripada tatapanmu, Airin.
“Kamu nggak usah pura-pura, deh. Kamu kan yang nyebarin ini..,” Airin memberiku sebuah kertas. Aku berpura-pura kaget.
“Ya ampun, siapa yang tega ngelakuin ini?”
“Nggak usah sok kaget gitu. Udah, ngaku aja. Ini kerjaan kamu, kan?”
Aku menggeleng. “Nggak. Aku nggak mungkin setega itu sama Tania,” ujarku tenang.
“Terus, kalo bukan kamu, siapa lagi? Yang tahu masalah ini, cuma kita berdua kan? Dan yang paling mungkin melakukan hal ini, adalah kamu..!!” tuding Airin yang mulai emosi.
Aku mencoba untuk tetap tenang.
“Kamu kok nuduh aku kayak gitu? Aku ini udah sahabatan lama sama Tania, sama kamu juga. Kamu tau itu kan? Jadi, nggak mungkin aku ngelakuin hal itu. Aku memang sakit hati sama Tania, tapi aku nggak pernah kepikiran buat ngelakuin hal itu,” lidahku begitu lihai berbohong.
“Terus, kalo bukan kamu, siapa lagi?’
“Aku nggak tahu. Aku saja baru tahu soal ini, dari kamu,” satu lagi kalimat kebohongan dari mulutku.
Aku melirik Airin. Dari sorot matanya, aku tahu jika dia belum sepenuhnya percaya padaku.
“Masa kamu nggak percaya sama aku?” kataku memelas.
“Jujur, sebenarnya, sulit buatku untuk percaya semua omongan kamu! Tapi, aku berharap semoga itu memang bukan kerjaan kamu. Sorry, tadi aku udah kelewat emosi. Ini karena aku nggak tega ngelihat Tania yang terus-terusan sedih dan tersiksa batinnya,” ucap Airin lirih.
What? Apa aku tidak salah dengar? Selama ini, yang tersiksa itu aku! Bukan Tania!
“Maksud kamu?”
“Kamu memang sakit hati. Tapi, sakit hati yang Tania rasain, lebih sakit daripada sakit yang kamu rasain. Sebenarnya, Tania nyuruh aku untuk merahasiakan ini. Karena dia nggak mau, kamu jadi kepikiran.”
Aku tidak mengerti. Kenapa justru Tania yang lebih sakit hati?
“Gini ceritanya, Tania sama Tristan, sebenarnya pernah pacaran waktu masih SMP. Tapi nggak lama. Karena Tristan harus ikut orang tuanya tinggal di kota lain. Dengan terpaksa, Tristan ninggalin Tania. Singkat cerita, Tania terus saja menunggu Tristan. Karena itu, selama ini, Tania nggak punya cowok. Semua itu karena Tania nggak bisa lupain cinta pertamanya, yaitu Tristan.”
Airin melanjutkan, “Tania nggak mengira kalo Tristan adalah cinta pertamanya. Tania hanya berfikir kalau Tristan mirip dengan cinta pertamanya. Ternyata, Tristan mengenali Tania. Tristan tahu, kalau Tania adalah cinta pertamanya. Saat Tristan mengungkapkan yang sebenarnya pada Tania, Tania sudah keburu tahu, kalo kamu suka sama Tristan. Dia minta Tristan buat nembak kamu, dan jadian sama kamu. Tania rela ngelakuin semua itu, demi kamu. Nggak taunya, tiba-tiba Tristan bilang kalo dia nggak bisa ngelanjutin sandiwara ini. Katanya, dia nggak bisa terus-terusan ngebohongin perasaannya. Karena itu, Tristan akhirnya ngungkapin semuanya ke kamu di CAFFE HAPPYHOME.”
Aku mendadak bisu, yang ku lakukan hanya diam mematung. Ku merasakan mataku mulai basah. Akhirnya, tangisku pecah juga. Rasa sesal menelusup melalui celah-celah hatiku. Selain itu, aku juga menangis karena tahu bahwa Tristan tak pernah mencintaiku.
“Tania sama Tristan ada dimana?” tanyaku pada Airin sambil mengusap air mataku.
* * *
Aku terengah-engah. Tak kuat aku berlari lagi. Aku telah mengitari sekolah dengan kecepatan maksimum. Tapi, aku tak bisa menemukan Tania dan Tristan.
“Maafin aku, Tania. Kamu ada dimana? Aku nyesel. Aku pengen minta maaf..”
Aku sudah terlalu letih, dehidrasi pula. Kemana lagi aku harus mencari Tania dan Tristan? Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Semangatku kembali penuh. Aku berlari lagi, meski peluhku terus mengucur.
Aku menemukan Tania dan Tristan. Wait, sepertinya mereka sedang…
“Mending kamu cari cewek lain saja. Aku nggak pantes buat kamu. Kamu berasal dari keluarga baik-baik. Sementara aku cuma berasal dari keluarga gudikan. Aku mohon, lupain aku,” pinta Tania. Air matanya terus berderai.
Ini semua salah aku.Akulah yang telah membuat Tania sakit hati dan terus-terusan tersiksa. Aku jahat.
“Tapi, aku nggak sanggup kehilangan kamu! Aku sayang banget sama kamu! Dan aku juga nggak peduli dengan masalah keluarga kamu!” Tristan bersikeras.
Aku tidak bisa tinggal diam..
“Sorry, mungkin aku datang disaat yang tak tepat. Aku cuma mau minta maaf. Selama ini, aku udah jadi penghalau hubungan kalian. Aku tahu, aku nggak berhak ikut campur. Tapi please.., kamu jangan putus sama Tristan. Aku nggak akan bisa maafin diri aku, kalo itu sampe terjadi. Dan semua pengorbanan kamu bakal sia-sia, Nia,” kataku panjang lebar. Aku tak bisa mencegah air mataku yang berhamburan.
“Aku nggak pantes buat Tristan. Kamu yang pantes buat dia,” ucap Tania. Seusai berkata begitu, Tania melengos pergi meninggalkan aku dan Tristan.
Tanpa membuang tempo, Tristan langsung mengejar Tania. Aku mengikuti Tristan dari belakang. Tapi, tadi tenagaku telah habis terkuras, aku akhirnya tertinggal jauh.
Ku lihat Tania berlari ke arah jalan raya, Tristan masih mengikutinya.
“Aku nggak bisa hidup tanpa kamu,” teriak Tristan gembar-gembor.
Saat Tania dan Tristan masih sibuk berdebat, Nampak olehku sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi. Gawat, Tania dan Tristan bisa ketabrak truk itu.
Truk semakin mendekat, Tania dan Tristan masih disana. Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Pikiranku kacau. Tak tahu, apa yang harus ku perbuat.
Akhirnya aku berlari dengan semampuku ke arah Tania dan Tristan. Kala aku menjangkau mereka, dengan sekuat tenaga ku dorong tubuh mereka ke tepi jalan. Aku lega, karena mereka selamat. Tapi, aku lupa satu hal…
“VELO….!! AWAS….!!!”
Aku terlambat menyadarinya.
* * *
Aku merasakan perih menjalar di sekujur tubuhku. Sesuatu mengalir dari kepalaku. Aku mencoba membuka mata. Kepalaku pening. Pandanganku kabur. Tapi, aku masih bisa mengenali orang-orang di sekitarku. Tania, Tristan, dan Airin.
“Velo..,” itu suara Tania. Ia sedang menatapku sambil berlinang air mata.
Mulutku kaku. Lidahku kelu. Tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya tersenyum kecil. Aku merasa bahagia. Belum pernah aku sebahagia ini. Tapi sebenarnya, ada suatu hal yang membuatku bingung. Aku tak tahu, untuk siapakah pengorbananku ini. Apakah ini untuk Tristan, cowok yang sangat aku cintai? Ataukah untuk Tania, sahabat terbaikku sepanjang masa? Entahlah, apakah ini pengorbanan untuk cinta, ataukah pengorbanan untuk sahabat!?
Untuk Tania : “Friendship is never lost and never dies..”
Untuk Tristan : “I trust and love you, forever. Always in my heart..”
Setelah itu, aku tak tau apa yang selanjutnya terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar