Kamis, 25 Agustus 2011

PENAMPAKAN DUA SISI SUSI

Buku Kumcer : DUA SISI SUSI

BUKU PALING MEMATIKAN abad ini...
inilah penampilan pertama BUKU PALING MEMATIKAN abad ini:






  • Rembulan Itu Berwarna Hitam
Seperti biasanya, sebelum menulis cerpen, aku selalu mencari judul untuk ceritaku itu terlebih dahulu. Judul bagiku begitu sakral, dia seperti rambu-rambu yang akan membantuku untuk berjalan ke depan. Ya, akhirnya aku menemukan judul REMBULAN ITU BERWARNA HITAM. Kenapa aku pilih judul itu karena aku suka rembulan. Seringkali aku memakai kata-kata Putri Malam ini untuk judul cerpenku, entah itu Purnama, Rembulan, atau Luna. Selain itu,  setting waktu dalam cerpen ini 95% terjadi saat malam hari, oleh karena itu aku langsung klop dengan rembulan untuk judulnya. Kenapa hitam? Ya, seperti kita tahu, hitam penuh misteri. (Richa Miskiyya - penulis Rembulan Itu Berwarna Hitam)


  • Buku Harian Putih
Pengumuman 21 besar akan segera dipublish tepat jam 12 malam, tapi sebelum itu tiba-tiba HP-ku mati! Sial... sial... low bath di saat yang tidak tepat! Saat itulah aku merasa Susi sedang di sampingku, tersenyum yang mirip seringai. Omayyot! Kenapa Susi hadir saat ini? Saat yang penting sekali untukku karena aku sudah resmi menjadi 25 besar, tinggal selangkah lagi... tapi Susi... arrrggghhhh... padahal pas pembuatan naskah tidak ada sosok Susi yang menghantuiku!

Kutenangkan pikiranku dan ku-charger HP-ku selama 30 menit, setelah yakin bisa hidup—walau batrenya belum penuh—aku pun segera masuk ke internet mobile. Kudapati mention dari Mbak Tri Lego Indah di beranda facebook. Saat membaca postingannya aku menganga lebar. Kira-kira seperti ini postingannya: “Adikku El Eyra, selamat ya Sayang. Naskahmu berhasil menjadi 21 besar Dua Sisi Susi. Keren banget dirimu Dek, bisa sebuku sama Kak Lonyenk, Kak Ceko dan Mbak Arumi.” (El Eyra - penulis Buku Harian Putih)


  • Putih Nada Cinta
Cerita Putih Nada Cinta sekarang bergabung dengan Susi-susi lainnya di antologi DUA SISI SUSI. Saya sangat yakin kalau buku ini memang mematikan. Dan buat Cendolers yang sudah maupun belum membaca, ini adalah teks lagu Putih Nada Cinta. Lagu terkutuk! Hati-hati! Jangan sekali-kali berani menyanyikannya!

Aku selalu bersamamu,
Tengoklah di balik kelambu,
Senyumku ada disitu…

Tirai putih cinta,
Kelopak mawar bertebaran…
Disana jiwaku berada…

Disisimu,
Disampingmu!
Bersama putih nada cintaku…

Suaranya lembut, penuh desahan manja. Dengan detil khas penyanyi tahun enam puluhan. Tidak ada yang istimewa dari lagu itu, kecuali bahwa melodinya sangat indah. Ada harmoni dalam irama yang menakutkan itu, menambah kengerian akan sebuah kutukan yang konon menyertainya.
 (Putu Felisia - penulis Putih Nada Cinta)

1 komentar: