Mereka, memang anak-anak yang kurang beruntung, tapi mereka bukan temanku. Aku bahkan tak tahu nama mereka, tempat tinggal mereka, atau pun asal usul mereka. Pernah terkuak di benakku, untuk mengajak mereka kenalan. Tapi rasa gengsi, canggung, dan malu menelusup lewat celah hatiku. Aku tak ingin membuat mereka besar kepala, dan bahkan aku was-was jika mereka menganggapku bandit yang ingin menjual mereka sebagai budak. Memang, Gorontalo bukan kota besar, angka kriminalitas bidang pencopetan, penjarahan, penjualan anak, atau bahkan kasus mutilasi, bisa dibilang tidak tinggi. Tapi siapa yang tahu, mereka bisa saja mengira aku ini bandit salah satu bidang kriminalitas tadi. Ah, sudahlah. Aku tak ingin terlalu berpanjang lebar kali tinggi dengan ria. Itu hal yang harus dihindari penulis, demi mematuhi petuah : "saat menulis, tidak boleh ada kata yang terbuang percuma."
Akan aku mulai ceritaku..
Aku sebelumnya tak pernah menyadari keberadaan mereka. Padahal, saban kali dalam perjalanan ke sekolah, aku selalu melewati 'tempat' mereka. Ya, terkadang mereka terabaikan. Mereka semakin tertungkus lumus dalam kepenatan masa yang kian hari semakin modern. Orang-orang berpikir kehidupan mereka terlalu 'biasa' untuk dijadikan sebagai salah satu permasalahan. Ironis menurutku. Harusnya itu adalah masalah besar. Karena keberadaan mereka mencerminkan pudarnya rasa kepedulian dan kemanusiaan kita. Apa susahnya, orang-orang berdasi dengan mobil mewah menyumbangkan sedikit saja kekayaan mereka yang membludak? Toh, dengan melakukan hal itu berarti mereka telah menyucikan hartanya. Lalu kenapa jarang sekali orang berharta yang dermawan? Entahlah.
Bahagia tak terperikan hatiku, jika saja Indonesia dipenuhi orang berharta yang dermawan, yang mau menyumbangkan sedikit uangnya demi orang-orang kurang beruntung di negeriku ini. Uang itu bukan untuk diberikan pada orang-orang yang kurang beruntung. Tetapi untuk membangun sekolah gratis dan rumah baca untuk mereka. Jika rasa kepedulian hanya terus diimplementasikan dengan memberi mereka uang, bukannya dapat mengubah nasib mereka, malah membuat mereka malas bekerja dan selalu mengharapkan bantuan.
Tapi, miris. Saban kali aku mengutarakan ideku tentang permohonan sumbangan kepada para hartawan untuk membangun sekolah gratis dan rumah baca, jawabnya : "ha..ha..ha.. betapa mulianya kau nak, sayang impianmu terlalu tinggi." Atau jawabnya seperti ini : "nak, kau ini masih kecil, tahu apa kau tentang kemakmuran rakyat? Biarlah, itu menjadi urusan pemerintah. Yang harus kau lakukan hanya belajar dan berprestasi."
Huh, selalu saja aku ini dipanggil "nak". Aku ini bukan anak kecil, aku seorang remaja yang tak tahan melihat anak-anak usia sekolah menjajakan koran atau menjadi kuli di pasar. Bayangkan saja, saban kali aku pergi sekolah, aku selalu melihat mereka dengan setia di tempatnya. Lalu lalang di keramaian pagi, sambil berteriak : "koran.., koran.., ada berita tentang Gayus yang menyerah, ada berita tentang anak hilang karena efbi," yah begitulah rutinitas mereka tiap pagi. Ragam tanya terkuakkan segera di benakku. Apa mereka tidak sekolah? Kenapa mereka yang harus bekerja? Apa harga kebutuhan memang terlalu mahal, sehingga upah orang tua mereka tak cukup untuk hidup?
Aku tak bermaksud melarang mereka bekerja untuk membantu orang tuanya. Aku hanya tak ingin mereka putus sekolah demi berpeluh keringat mencari uang. Kalau mereka mau bekerja, ya silahkan saja. Tapi jangan pernah abaikan pendidikan. Malah, jika dipikir lagi, justru akan lebih menguntungkan jika kita memiliki pendidikan. Kalau saja mereka belajar dengan penuh kesungguhan dan ulet, tentu saja mereka akan dipandang dan dinilai sebagai anak berprestasi. Apalagi jika bakat yang mereka miliki bisa diasah, dikembangkan, dan kemudian dimanfaatkan. Berkat prestasi dan bakat yang mereka miliki, tentu saja mereka akan memperoleh uang. Begini, jika kita mau menekuni satu bidang yang kita sukai dengan tekun, bukan hal yang mustahil kita bisa menjadi orang 'hebat' di bidang itu. Kemenangan dalam lomba Insya Allah didapatkan. Nah, bonus kemenangan (baca:uang) itu bisa digunakan untuk membantu orang tua. Dengan bersekolah dan memiliki pendidikan, bukankah banyak keuntungannya? Kalau saja, mereka mengerti itu.
Tapi ku sadari, pikir mereka, lebih baik berpeluh keringat mencari uang daripada hanya duduk diam menyerap ragam ilmu. Kalau seperti itu, apa yang harus ku perbuat?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar