SENYUMAN bersama ISOTONE [episode II]
24 senyuman itu selalu nampak
Bak juta bintang mendampingi malam
Bila realitas membisiki
Tentang saat-saat indah itu
Saat kita membuka identitas di depan kelas
Lalu membiarkan 23 pasang mata menatap kita
Saat kita saling membuka diri
Kemudian menerima yang lain apa adanya
Saat tertawa dan canda itu mencuat
Akibat si kecil tukang ceramah
Saat perut kita dikocok-kocok
Dengan guyonan anak tersehat di X-1
Saat kita menunjukkan kekompakan kita
Dengan tepukan dan 'ha' kita yang khas
Saat kita berhasil mendapat pengakuan itu
Bahwa X-1 adalah kelas terkompak
Saat kita memenangkan Fahmil Qur'an
Dengan doa keliling putra Kota Palu
Saat kita bersuka ria
Ketika 2 putra Makassar mengharumkan X-1
Saat kita berpisah sementara
Dengan oleh-oleh THR yang lezat
Saat kita bersua dan bermaafan
Dengan rindu yang berderai deras
Saat kita telah membentuk ikatan
Dengan memenuhi aturan oktet
Saat olokan-olokan itu kian bersemarak
Antara Juliette dan John
Antara Karen dan Jonah
Saat kita tanpa sengaja
Menciptakan jarak antara langit dan bumi
Saat Umi Mul bangga
Saat Umi Lenny tertawa karena 'kita belah'-nya Utsh
Saat kelas Ustad Taufiq kita jadikan ajang perlombaan
Saat Ustad Jajang dikagetkan bersin guntur
Saat Umi Vice terpesona dengan kemampuan kita berpuisi
Saat Umi Yana merelakan 'sepuluh ribu'-nya
Saat Ustad Syarif ikut melucu
Saat Umi Sartini tersenyum dengan pertanyaan-pertanyaan kritis
Saat Ustad Joko memuji kita
Saat Ustad Budianto bercerita hal konyol
Saat Umi Cica bernarsis ria
Saat Ustad Suwardi kembali ke masa muda
Saat Ustad Rustam menghadirkan sinema pereda stress
Saat Ustad Rahman begitu menyenangi kepala Adli
Dan selaksa saat-saat yang lain
Semua terukir indah dengan tinta emas
Membentuk pola antarpersonal yang ceria secara komprehensif
Kini, di detik-detik terakhir ini
Hanya saat-saat itu yang bisa menyatukan kita
Dengan DNA yang masih berpilin ganda
Kita akan tetap berikatan sebagai X-1, sebagai ISOTONE
Tidak ada komentar:
Posting Komentar