niehh lanjutannya..
selamat membaca !! :)
*jeeng... jeeng...*
HARI TERAKHIR MOS
Harusnya ini menjadi hari yang berbahagia untuk generasi ayye (baca: angkatan 14 MAN ICG). Tapi nyatanya, TIDAK SAMA SEKALLEE !! Sehabis POST-TEST, semua generasi ayye langsung disuruh ngumpul di GSG alias Gedung Serba Guna. Gila gag tuh? Padahal, kita semua baru saja menguras isi otak di medan post-test bahasa Arab.
"DALAM HITUNGAN KELIMA, SEMUA SUDAH MEMBENTUK BARISAN..!! DUA..!! EMPAT..!!" teriak kakak OSIS dari Divisi Bela Negara. *gag brani nyebutin nama -_-*
Busyet dah! Sejak kapan hitungan dimulai dengan angka DUA? Sejak kapan habis DUA, EMPAT? Tapi sekali lagi, tolong anggap semua itu wajar. Jika kau tak ingin dihukum + mendengar omelan dengan kata-kata semanis empedu.
Semuanya dengan kepanikan tingkat tinggi segera membentuk barisan.
"MASING-MASING MEMEGANG BUKU TANDA TANGAN...!!"
Beuh, kita semua pada lari pontang-panting menuju tas masing-masing, mengambil buku tanda tangan, dan kembali ke barisan dengan kecepatan super. Sebelum si kakak dari Divisi Bela Negara itu, mulai menghitung DUA, EMPAT, lage..
Benar saja, dua detik setelah aku sampai di barisan, teriakan itu kembali menggema..
"DALAM HITUNGAN KELIMA, BARISAN SUDAH RAPI DAN TAK ADA LAGI SUARA YANG TERDENGAR..!!"
Tanpa perlu dihitung, kami sudah membentuk barisan yang sangat rapi dan indah dipandang mata *hallah*, dengan mulut yang dikatupkan.
"****, ada yang tidak ba bawa buku tanda tangan!!" teriak salah satu kakak OSIS.
(perhatian! kalimat di atas merupakan kalimat berbahasa Gorontalo. yang bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia, berbunyi : "****, ada yang tidak membawa buku tanda tangan!)
"Dalam waktu lima menit, kalian kembali ke asrama untuk mengambil buku tanda tangan. Kalau terlambat, hukuman menanti..!!" teriaknya kejam. Benar-benar SADISME. T_T
Tanpa membuang tempo, mereka yang tidak membawa buku tanda tangan langsung lari terbirit-birit menuju asrama.
SADISME TINGKAT TINGGI
Para senior (baca: kakak-kakak OSIS) lalu mengumpulkan buku tanda tangan kami. Katanya, mereka mau memeriksa buku tanda tangan kami dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Kalau-kalau ada biodata + tanda tangan non OSIS nyasar di buku kami. Sejak dahulu kala *ekh gag ding!*, maksudnya sejak kemaren-kemaren, para senior memang telah mengingatkan kami. Untuk berhati-hati pada senior non OSIS yang mengaku-ngaku anggota OSIS.
Lalu, beberapa senior cowok maju ke depan, layaknya algojo yang siap melaksanakan eksekusi. *peace, kak!!*
"SIAPA YANG JUMLAH TANDA TANGANNYA MENCAPAI 50???" teriak salah satu dari mereka.
Hening. Tak ada jawaban.
"TIDAK ADA??"
(masih) tak ada jawaban.
"MASA' TAK ADA SATU PUN YANG MENCAPAI 50..!! KHAN SUDAH DIKASIH KESEMPATAN UNTUK MENCARI. KENAPA TAK ADA YANG BISA MENGUMPULKAN 50 TANDA TANGAN?? HAHH??"
"jiah, kakak gimana seh? khan kakak sendiri yang gag mau ngasih tanda tangan. napa marah-marahnya ke kita??" ujarku dalam hati.
"KALIAN SEMUA DIHUKUM..!!"
Satu kalimat, tiga kata, delapan belas huruf itu, berhasil membuat wajah kami pucat pasi.
Kami disuruh berdiri dengan tangan diangkat lurus ke depan, selama-lamanya *waahh!! bisa mati dong!! authornya gimana seh?? em, maav. maksudnya selama mungkin.* Untuk putra lebih parah. Mereka disuruh berdiri dengan tangan diangkat lurus ke dapan, dan kaki ditekuk. Benar-benar tindakan SADISME TINGKAT TINGGI..!!
Perlahan, mulai ada yang tumbang alias pingsan. Aku sendiri, sebenarnya sudah tak kuat. Tapi wajah sangar para senior, membuatku gentar untuk menurunkan tangan.
Kak Kika, kakak asuhku tersayang, menghampiriku.
"TURUNKAN TANGAN..!!" katanya.
Bukan main senangnya hatiku.
Tiba-tiba Kak Dina datang mengusik kebahagiaanku dengan berkata, "ANGKAT.."
"Yudit capek khan?? Ya sudah, turunkan tangan," ujar Kak Kika.
"KIKA..!! Jangan mentang-mentang karena dia adik asuhmu, dia mendapat perlakuan istimewa.. ANGKAT..!!" ucap Kak Dina.
Alhasil, mereka pun bertengkar di hadapanku dengan lengkingan suara yang menusuk telinga dan menyayat hati. Aku pun harus menurunkan tanganku, lalu mengangkatnya lagi, menurunkan kembali tanganku, dan mengangkatnya lagi.
*benar-benar kejam. T_T*
Adu mulut mereka akhirnya terhenti oleh suara kursi yang dibanting. Ternyata, di barisan putra, para senior cowok sedang saling adu pukul. Diawali perdebatan, dan akhirnya memicu perkelahian. Beberapa senior mencoba melerai, tapi mereka malah ikut terlibat.
Tanpa sadar, aku pun meneteskan air mata.
*dasar cengeng!!*
Aku tak tahan menyaksikan penganiayaan dan tindakan kekerasan terjadi di hadapanku.. *hallah*
Belakangan, aku menyesal telah mengeluarkan bulir-bulir air mata, yang membuatku terlihat cengeng. Karena ternyata semuanya hanya merupakan drama yang direkayasa oleh mereka. Untunglah, aku tak sendiri. Nyatanya, ada juga temanku yang lain yang ikut berderai air mata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar